Update Merah Putih, Pembangunan pasar Beringin Kota Sungai Penuh senilai 48 M yang dimulai sejak November 2025 dengan masa pengerjaan selama 10 bulan tak henti menjadi perhatian publik yang menanti nanti sukses debut besar Wako Alfin hingga anggaran cukup besar itu mampu digolkannya, meski sedang masa pemangkasan anggaran.

Terutama momok aduhainya dengan bagana bagini dilontarkan oleh kalangan aktifis sealam Kincai bermarkas diwarung kopi setengah air penuh dikenal jenis manusia cap mau yang kerab terlambat tidur dan selalu cepat bangkit karena tiap waktunya disibukkan skedul bagaimana memikir dan mengurus negeri .

Kenapa sampai hatinya disebut demikian? Karena, sudah memasuki 4 bulan masa pengerjaan ternyata penggalian tiang pancang pondasinya sebanyak 360 titik dengan kedalaman sekitar 6 M belum juga tuntas digelar.

Buktinya, sampai saat ini alat berat hidrolik masih bersikabut seperti ayam gadis bertelur dipemate read-pematang melakukan penggalian, alat hidrolik hanya satu tidak memadai untuk pekerjaan proyek yang begitu besar bagaimana bisa satu hidrolik digunakan nya, hingga mekaniknya harus mengimbangi kesanggupan alat dengan kerjanya agar tidak terjadi kerusakan alat bor hidroliknya.

Padahal, jauh harinya para aktifis tiap waktunya memantau kemajuan pelaksanaan telah mengingatkan stake holder terkait termasuk kementerian terkaitnya agar menekankan pihak pelaksana supaya bisa menambah alat bor hidrolik untuk penggalian agar tahapan pemasangan tiang pancang pondasi bisa tepat waktunya tuntas pada akhir Desember lalu.

Tetapi, penekanan tersebut tak begitu digubris oleh pihak pelaksana terlihat begitu PD, dugaan merasa didampingi oleh orang bagak dengan pisau dapur dan skater terselip dipinggang ketika “Nakura” alias nakuti rakyat bila siapapun ingin mencoba mengotak atik pengerjaannya.

Tak hanya demikian saja, berdasarkan apa dikutip oleh pihak tekhnis pelaksana katakanlah mas telongsong bukicoik mulang namanya dirahasiakan, didapat keterangan bahwa penggalian untuk satu tiang pancang sedalam 6 M bisa dilakukan sebanyak 8 titik tiap harinya oleh satu unit alat bor hidrolik. Bahkan dengan gamlangnya pengawas telongsong bukicoik mulang tersebut sempat membeberkan bahwa setiap lobang tiang pancang telah digali harus langsung dicor guna antisipasi terjadi keruntuhan pada lubang.

Ternyata, menurut pantauan awak Media Update Merah Putih diduga diawal serius dan giatnya alat bor hidrolik bekerja ditemukan ada diantara lubang tiang pancang yang digali hanya sekitar 4 M kedalamannya.

Buktinya, pada hampir ratanya bagian lubang telah dicor ditemukan rangka tiang cor yang masih menjulang, karena tidak ditanam sedalam rangka besi telah dirangkai sepanjang 6 M kedalaman mestinya sebagaimana disampaikan oleh pihak pengawas tekhnisnya.

Hebatnya lagi, katakanlah hai hai siapa dia orangnya namanya selaku yang berkompeten diperusahaan pelaksana berdalih bahwa terjadinya penggalian tidak rata untuk tiap tiang pancang bor karena dasar tanahnya keras. Tentu, pernyataan itu berpotensi memunculkan pertanyaan berlanjut, seperti kalau iya tanah dan dasarnya keras kenapa pengawas tekhnis takut terjadi runtuh hingga setiap telah digali harus langsung dicor, disertai dengan tanya lainnya apakah boleh begitu, dan apakah tidak berdampak terhadap ketahanan dari pondasinya, serta pertanyaan lainnya?, kan begitu. Bersambung.@Yd,Yid,Yi dan Riles