Update Merah Putih, Mengutip sepenggal pernyataan Alharis Gubernur Jambi menyebut “Itu tanyakan saja sama dewan”, ketika beliau didesak oleh pertanyaan Bung Harmoko salah seorang aktifis cap mau yang meminta agar Gubernur memberi contoh satu buah saja fisik APBD tahun 2025 Provinsi yang digelar di Kincai yakni Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci.
Merupakan pertanyaan yang bisa dimaklumi, apalagi datang dari aktifis cap mau yang dikenal cepat bangkit dan selalu lambat tidur karena tiap waktunya disibukkan kulur kilir mengurus dan memikir negeri. So pasti diyakini dirinya tau dan memahami apa sih yang ada dan terjadi tiap waktunya disetiap penjuru dan lariknya negeri sealam Kincai.
Begitu pula, jawaban dari Wo Haris Kito Gubernur Jambi bukanlah pernyataan sembarangan dihadapan para awak Media yang dikenal nauzubillah minta ampun biasnya bila sempat menemukan pernyataan yang diperlu ditelusuri guna didapatkan kebenaran dari persoalan sesungguhnya.
Tampa bermaksud ingin mendiskriditkan legislator Kincai yang duduk di Provinsi, tapi sebelum adanya penjelasan atau keterangan dari para legislator, tentu pernyataan singkat dari Gubernur Jambi tersebut berpotensi menimbulkan beberapa tafsir miris di masyarakat terkait dugaan bobroknya kerja dewan Provinsi selaku wakil rakyat.
Tafsir ringannya, seolah olah para legislator Kincai tak punya kuasa atau kuku untuk bisa memperjuangkan 1 paket pembangunan fisik saja bagi daerah dan masyarakat Kincai, meski dialasankan sedang masa pemangkasan anggaran.
Sementara, masyarakat Kincai selaku tim, pendukung dan pemilihnya telah bersitunggit siang dengan malam memperjuangkan bagaimana mereka bisa terpilih dan duduk selaku anggota dewan Provinsi Jambi.
Tafsir sedangnya, para legislator Kincai yang duduk didewan Provinsi mungkin sudah trauma berurusan dengan aparat penegak hukum dengan adanya kejadian kasus PJU yang menjadi miliknya dewan Kerinci.
Hingga masingnya berusaha mengelak dengan perasaan menggenggam baro api bila sudah berhadapan dengan namanya Pokir yang menjadi haknya sekigus kewajibannya terhadap kemajuan Dapil.
Tafsir beratnya, maaf cakap kata orang melayu daun kopi tersohor dengan air daun serbuk Kawonya bahwa jangan jangan telah terjadi ada apanya dong bahkan sampai dang ding dong digedung dewan Provinsi.
Mengingat, pengalaman politik berlolitik beberapa puluh tahun sebelum ini sempat mencuap rumor bahwa tak sedikit proyek untuk suatu wilayah yang dilegokan atau dipindah alihkan kewilayah lainnya ulah adanya permainan kijok mato diantara legislator digedung dewan dengan angguk sama baiyonya ketika saling menyatakan nyah ineh ulau itoh alias take and give.
Sampai tulisan ini ditayangkan belum bisa didapat keterangan dan penjelasan dari sejumlah 6 orang legislator perwakilan Kincai di digedung dewan Provinsi Jambi, meski semuanya telah dikonfirmasi dengan pesan Via HP. Namun demikian, sama kita tunggu bagaimana jawaban dan penjelasannya. Penulisnya, katakan sajalah orang jauh tapi dekat dihati namanya.@Yd,Yid,Yi dan Riles.







