Cerpen.
Disuatu senja, diketika itu nampak sejumlah kelompok mengerumuni pohon sebelumnya tegap dan menjulang tinggi, kini sudah terlihat pucat dan kering. Ntah kenapa dengan tak henti masing kelompok menunjuk sinisme berkepanjangan sambil melampias rasa tak puas, bahkan sampai mengupat berselewer kata benci dibibir
Seolah olah pohon besar nan rindang menjadi kebanggaan negeri sebagai tempat orang banyak berteduh dan juga ingin bersandar sudah bernasib seperti karatak diatas batu hidup segan mati tak mau yang mesti ditakuk dan ditumbangkannya.
Sebagian dari kelompok sebelah kanannya, sampai berkata didalam hati menyebut bahwa tak ada gunanya kita bersitunggit siang dan malam menjaga dan memelihara pohon besar yang disebut sebut bertuah dan kiramah selama ini.
Tragisnya lagi, sebagian dari kelompok sebelah kirinya tak henti pula bersekehendak hatinya mengguna jurus terabas dua belas menyebut inilah dan menebar isu begitulah salahnya pohon besar yang tiap waktunya berusaha bagaimana ingin tetap berdiri tegap sebagai arah dan junjungannya negeri.
Sementara, sebagian dari kelompok lainnya bertepuk tangan sambil melirik dan membaca peluang untuk tetap berada didepan dan bisa memanjat sampai bergayut read-gantungan diatas cabang maupun ranting.
Tak sedikit pula, beberapa kelompok sengaja datang dan berusaha mengeruk keuntungan dengan cara memeras daun dan menyayat batang, cabang dan ranting dengan alasan tersendiri dan masing guna mendapat dan meneguk airnya.
Dibagian lainnya lagi, terlihat ada sebagian kelompok lesu tak berdaya karena mungkin jatuh dipemanjat dan juga mungkin lantaran berat perut dari pantat hingga tak kuasa memanjat, sementara kemauan hati ingin berada dan sampai diatas pohon.
Aku, jadi bimbang dengan beribu tanya dihati wah ada pula kerumunan sejumlah kelompok tidak tentu pelarah. Apakah diantaranya tak sadar bahwa dimasa tarakinainya read-kini adalah musimnya kering. Bahkan, terkadang aku harus berhadapan dan menegur masingnya tanpa peduli siapa dan resiko apa akan terjadi karena hasrat dan harap kejadian dan kesalah pahaman ini tak mesti berlarut.
Meski semua hampir langsung terdiam, tapi sesekali masih terlihat lemparan batu yang dilontarkan oleh orang orang yang berjibaku dibawah ketiak masing kelompok, karena mungkin ingin menunjuk rasa setia dan royalnya pada juragan.
Sayangnya, secara tiba tiba sontak aku tersentak ketika Yanda anakku menepuk punggungku menyebut pa papa apeu fikui iteuh sambil berucap isauk ukeuk, karena menyaksi rokok yang aku pilin dan pegang dijari.
Aku langsung berkata didalam hati, rupanya aku baru larut dalam lamunan nasibnya negeri karena ditimpa masa pemangkasan anggaran, dan tulisan ini aku akhiri sambil berkicoik mulang read-berucap astagafirulloh hulazim disertai doa iya Alloh semoga tahun 2026 ini semua bisa berlangsung damai dan harmonis penuh dengan segala kemajuan. Cerpen pengibur lara dimasanya minggu tenang, karena lagi menghadapi kemalangan.@Yd,Yid,Yi dan Riles.







