Update Merah Putih, Pantas diberi acungan jempol terhadap tekad Bupati Monadi bersama Wabup Murison menjadikan Kerinci sebagai daerah yang benar benar mandiri dengan segala peningkatan dan pengembangan produktifitas dari usaha dan kerja masyarakatnya.
Dibuktikannya, dengan beberapa langkah dan terobosan besar bagi pemerintahan, pembangunan dan kehidupan sosial bermasyarakat Kerinci agar rakyat yang dipimpinnya bisa duduk sama rendah dan tegak sama tinggi dengan daerah lainnya.
Bahkan, Pemkab Kerinci telah berkali menggelar beberapa efent besar skala nasional dan dunia internasional pada tahun 2026 ini guna bisa menarik perhatian wisatawan dan investor terhadap potensi dimiliki daerah termasuk sektor wisata yang menjadi andalannya Kabupaten Kerinci.
Hanya saja, terkadang niat besar dan mulia Pemkab Kerinci itu bisa berdampak terhadap masyarakat yang setengah hati maupun belum jadi kesangupan menafsir kemandirian yang bagaimana dan apa sih sesungguh yang menjadi harapan bupati bersama Wabup Kerinci.
Buktinya, tak sedikit warga masyarakat Kerinci berusaha mandiri dan terlepas dari semua ketergantungan, seperti ada yang ingin lepas dari ketergantungan terhadap keluarga, bahkan ingin lepas dan tak ingin tergantung pada suami. Meski dibalik semuanya tak lebih karena ingin bebas secara kebablasan.
Akibat dari kebebasan yang kebablasan tersebut tak sedikit pula diantaranya terjerumus pada kehidupan dang ding dong seperti tabiatnya mbah surip kemana mana selalu minta digendong dong lantaran menyaksi ada yang lain tempat bisa manja dan memberi perhatian lebih.
Kondisi demikian telah dijadikan peluang untuk bisa mengais rezeki oleh beberapa oknum di Tanah Sikudung Sulak, terutama ketika menyaksi potensi wanita muda sulak terkenal aduhai bahenol body dan kijok matonya yang menjanjikan untuk dijadikan lahan bisnis.
Buktinya, tak hanya tempat hiburan remang dikawasan bukit tupai alias bukit tengah yang nekad mempekerja wanita kanji selera masa masa kini yang berasal dari Sulak. Bahkan, di sulak pun tak sedikit tempat kosan dihuni oleh wanita muda Sulak yang broken home dengan ortu maupun dengan suaminya.
Seolah olah, kebesaran dan kuasa adat di Tanah sikudung Sulak dikenal bukan main mulianya ternyata lebih cenderung sebatas melepas pagi saja, sementara adonyo balik kekubangan read-rumah disaat petang dan apapun dikerjakan katiko malam terserah mano kato dirinyo masinglah.
Realita ini, telah menjadi gunjingan dibanyak kalangan terutama dikehidupan dunia malam sealam Kincai lantaran tak sedikit para wanita penghibur muda disebut sebut sebagai lauk puyu patah dari Sulak yang bisa ditemukan didapat ditempat tempat hiburan.
Maka, wajar bila para aktivis Merah Mato seperti Jon turis, bung Naiboho Daniel dan Yantoni Pers beserta Wilona Diwai selaku tunggu pematang negri Tanah Sikudung kerap membahas sekaligus berharap kepada Pemkab Kerinci dan APH bersama kaum adat Tanah Sikudung agar segera menunjuk peduli dan sikap tegasnya terkait maraknya maksiat di Tanah Sikudung. Amin semoga, penulisnya katakan sajalah orang jauh tapi dekat dihati namanya yang tak pernah hilang rasa peduli dan cintanya terhadap sealam Kincai.@Yd,Yid,Yi dan Riles.






