Update Merah Putih, Kendati umumnya uhang Kincai yakni Kota Sungai Penuh dan Kerinci sudah terkesan menyesal banget dengan kata selukunya read-sepakat telah menghibahkan lebi dari separoh wilayahnya menjadi kawasan TNKS notabenenya paru paru dunia.

Sementara, kebaikan hatinya selaku penghibah tak mendapat perhatian dari dunia Internasional, apalagi kontribusi yang bisa diterima. Bahkan, Kincai sempat terkesan jadi pengemis didaerahnya sendiri karena proposalnya untuk mengguna secungguk read-secuil lahan TNKS nagi kawasan TPA regional tak dikabulkan oleh Kementerian terkait.

Namun, Pemkot Sungai Penuh dan Pemkab Kerinci tetap juga jadi pak turut karena tak mau disebut bertingkah ketika negara maupun dunia Internasional bicara pelestarian hutan dan lingkungan hijau demi memikir masa depan dan kemaslahatan nyawa orang banyak.

Senin 4/5, beberapa hari lalu dengan penuh rasa hormat Sekretaris Daerah, Alpian kembali lagi taukuk ukuk read-ikutan duduk berapat dan menata barisan menghadiri kegiatan Closing Meeting Penerusan Hibah On Granting Fase Pra Investasi Program BioCF-ISFL Provinsi Jambi Tahun 2022–2026, bertempat di Swiss-Belhotel Jambi.

Sementara, dirinya tak bisa membendung tanya semua Kincai didalam hati, kapan sih Pemrov Jambi ataupun negara ini ikut memperjuangkan kontribusi dari Oksigen segar yang diproduksikan oleh hutan TNKS yang telah dikonsumsikan tiap detiknya oleh masyarakat dunia Internasional.

Pasalnya, sampai dimasa tarakinai read-kini masyarakat Kota Sungai Penuh dan Kerinci tak henti bersikambut read-heboh dimedsos mempertanyakan sejauhmana kontribusi diberikan oleh TNKS dan dunia Internasional bagi kemajuan masyarakat maupun pembangunan daerah sealam Kincai.

Program BioCF-ISFL di Provinsi Jambi adalah inisiatif strategis Bank Dunia untuk pengelolaan lahan berkelanjutan dan penurunan emisi karbon (GRK) melalui ekonomi hijau.

Program ini berhasil menutup fase pra-investasi pada Mei 2026 dan siap memasuki tahap pembayaran berbasis hasil (RBP) atau skema carbon payment.

Walau skema carbon payment pembayaran jasa karbon tidak identik atau tidak sama persis dengan Taman Nasional Kerinci Seblat TNKS, namun upaya ini merupakan salah satu mekanisme pendanaan yang dapat diterapkan di TNKS.

Aneh bin ajaib jadinya bila carbon payment adalah alat atau metodenya telah menunjukkan perhatian, sedangkan TNKS sebagai lokasi atau objek konservasi di mana alat tersebut diterapkan hanya bisa terbelalak dalam kegembiraan bersama daerah lainnya.

Diharapkan, moment Carbon Payment ini bisa lebih menginsfirasi Pemrov Jambi dan Pemerintah Pusat untuk memperjuangkan kontribusi khusus yang bisa didapat oleh Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci dari pihak TNKS maupun dunia Internasional. Amin semoga.@Yd,Yid,Yi dan Riles.