Update Merah Putih, Mengutip apa yang menjadi harapan Presiden RI, Prabowo agar seluruh lembaga mendukung program strategis Pertanian khusus Ketahanan Pangan, dan bergulirnya isu bahwa Pemerintah akan mengambil alih penguasaan setiap lahan tak difungsikan.
Telah memberi sinyal bahwa Pemerintah RI tak main main dalam membangun ketahanan Pangan guna memulihkan kembali kebesaran Indonesia sebagai salah satu lumbung padi terbesar dunia.
Sekaligus demi menguat wibawa Indonesia sebagai negara agraris yang menitik beratkan sektor pertanian dalam membangun usaha dan produktifitas pertanian bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya.
Peningkatan itu juga diharapkan terjadi di Kincai negeri serumpun Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci, Jambi yang disebut sebut sekepal tanah syurga tercampak kemuka bumi dengan tuah sepakatnya segala apa jenis yang ditanam bisa tumbuh menjadi meski hanya disisip diatas batu.
Tapi, kenyataannya sektor pertanian belum mampu berarti besar bagi peningkatan usaha ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya notabenenya komunitas melayu kopi daun yang sudah ditakdirkan keberadaannya terkungkung ditengah apitan dua jejeran bukit barisan.
Kenapa ini semua bisa terjadi? Karena, selain letak geografisnya rentan terjadi bencana alam seperti banjir dan longsor, kemudiannya juga lebih dari 51,09 % wilayahnya telah dihibahkan kepada TNKS sebagai paru parunya dunia Internasional.
Sementara, sampai saat ini apa yang menjadi harap dan pinta masyarakatnya belum juga direalisasi oleh Pemerintah pusat yakni program pembangunan irgasi permanet yang bisa mengaliri air ketika musin kemarau dan bisa mengeluarkan genangan air dari lahan pertanian diketika musim penghujan.
Begitu pula, pihak TNKS lembaga yang bukan marin baiyo iyonya menyebut diri dibawah wewenang dan dilindungi oleh dunia Internasional, tapi belum juga bisa memberi kontribusi berarti bagi daerah dan masyarakat sealam Kincai.
Dibagian lain, lahan pertanian yang bisa digarap sebagian besarnya telah dikuasai oleh tuan takur read-tanah yang dikenal memiliki dan punya segala disetiap larik dan dusunnya penjuru negeri sealam Kincai. Hingga, membuat lengkap sudah merinu pandang read-derita dialami oleh pertanian dan usaha umumnya masyarakat tani sealam Kincai.
Dampak nyatanya lagi, hanya karena banjir sehari diakhir Oktober 2025 sempat melanda kincai, harga gabah atau padi semulanya 100 ribu perkaleng langsung melonjak harganya menjadi 110 ribu rupiah perkalengnya. Nauzubillah iya Alloh apakah ini yang dimaksud negeri subur hanya karena terkena imbas tabiatnya adam dan hawa hingga sampai tercampak dari syurga?
Tampa bermaksud ingin langsung blak blakan dan bla bla menyebut bagaimana gejolak dan amarahnya masyarakat. Namun, para sang peduli alam Kincai masih tetap berharap kepada Pemerintah Pusat dan dunia Internasional agar segera peduli terhadap keluh kesah dan jerit tangisnya masyarakat dan usaha tani Kincai demi suksesnya program strategis nasional Ketahanan Pangan di Kota Sungai Penuh dan Kerinci, Jambi. Amin semoga, bersambung. Penulisnya, katakan sajalah orang jauh tapi dekat dihati namanya.@Yd,Yid,Yi dan Riles.t







