Update Merah Putih, Mengutip dua kalimah bertuah, kata Hitler penguasa Nazi dikenal beringas dan sadisnya dengan kumis melampui biboi bahwa sesungguhnya saya takut dengan satu mata pena wartawan, serta pandangan umum bernegara selama ini bahwa bila Pemerintah tampa adanya Pers sama halnya makan tak berkuah dan biboi read-bibir lelaki okey punya tak bersungut read-kumis.

Tak ketinggalan secara adatnya alam Kerinci dikenal dengan istilah sebesar besarnya kita memiliki kemeyan bila tak dibakar tak ada orang mengetahui baunnya, seperti dengan cara mengabarkan setiap sesuatu apapun bentuk kebesaran dimiliki yang mesti diketahui oleh orang banyak.

Hingga, dengan baiyo iyonya read-banget Negara Republik Indonesia ini tak mau ketinggalan debut menempatkan Lembaga Pers sebagai pilar keempat demokrasi dan pembangunan, terbukti berkat kerja Pers telah membiat kran reformasi bisa terbuka dan berlangsung dengan transfarasinya.

Maka, dikenal dengan tupoksinya Pers notabenenya roh yang terkandung didalam UU No 40 tetang Pers yakni mendukung terselenggaranya perubahan dan peningkatan bagi segala kemajuan di Republik ini, dengan ragam bentuk kemasan dari sajian berita termasuk bentuk kritik dan solusi membangun yang diberikan oleh Pers.

Terlebihnya, dimasa pemangkasan anggaran terfokus pada program MBG dan Ketahanan Pangan yang dikuat oleh pernyataan Presiden RI mas Bowo diminta seluruh kementerian dan daerah mendukung setiap program strategis nasional.

Tentu, untuk bisa mengetahui bagaimana kelancaran dan sukses tampa ada dusta yang diharapkan oleh Kepala Negara, diantaranya adalah berkat jujur apa adanya yang disampaikan oleh kalangan wartawan melalui media masingnya, dan bukan karena ada apanya dong dan dang ding dong seperti manjonya mbah surip kemana mana minta digendong dong.

Bukannya bermaksud Pemerintah dan daerah harus memberedel read-pangkas anggaran Pers yang menjadi salah satu garda terdepan dan tulang punggung penyuport suksesnya program nasional termasuk daerah Provinsi atau Kabupaten dan Kota.

Begitu pentingnya kerja Pers, juga terlihat dari amarahnya Wako Sungai Penuh Alfin,SH karena kecewa ketika mengetahui bahwa kerja profesi Pers yang identik dengan profesional hanya diharga dengan angko suruk dibawah lantai alias ala kadarnya tak ubahnya seperti pembagian uang hangus untuk saksi suatu perkara secara adat ditengah larik dan dusun.

Ditambah lagi, adanya riak yang dikumandang oleh Doni aduhai kanji, sory bermaksud genit mengelitiknya selaku Ketua IWOI Kerinci dan Kota Sungai Penuh karena kecewa mendapat kabar bahwa anggaran untuk Pers Kota Sungai Penuh telah dipangkas habis, karena alasan pertimbangan rumus secara nasional menentukan setiap pemangkasan ditingkat daerah.

Demikian, langsung ditindak lanjuti oleh Diskominfo dengan mengajukan nota surat kepada TAPD dan Wako Sungai Penuh, serta pernyataan Ketua DPRD dengan gamblangnya menyebut penting dan harusnya ada anggaran bagi publikasi untuk Pers, hingga wajar pagu untuk Diskominfo dipertimbangkan kembali, termasuk ketika pembahasannya oleh dewan.

Tentunya pula, demikian tak sebatas menjadi perhatian penuh dari Pemkot Sungai Penuh saja, tapi diharapkan juga dari Pemkab Kerinci karena dinegeri Alam Kincai ini keberadaan komunias Pers sudah seperti sarang lebah tiap waktunya siap menyengat kepala siapa saja dengan jabatannya. Ini semua demi baik dan kemajuan stabilitas daerah maupun negara ini yang katanya semua dilakukan demi rakyat. Amin semoga, penulisnya katakan sajalah orang jauh tapi dekat dihati namanya.@Yd,Yid,Yi dan Riles.