Update Merah Putih, Longsor dijalan lintas puncak antara Sungai Penuh dan Tapan yang menjadi trending topik setiap musim hujan lebat di Kota Sungai Penuh ternyata sudah dianggap tradisi yang menjadi agenda tetap daerah dengan membentuk tim khusus yang siap diterjunkan ketika kapanpun terjadi longsor.

Begitu pula, Pemrov Jambi dan Pemerintah pusat notabenenya pemilik jalan nasional tersebut hanya terlihat menunjuk kepeduliannya menggelar perbaikan dan peningkatan jalan yang rusak parah karena setelah dimove habis habisan oleh kambut read-resah masyarakat di medsos.

Seolah olah bicara infrastruktur jalan terutama jalan nasional hanya item perbaikan dan peningkatan jalan serta menerjunkan petugas ketika terjadinya longsor serta kecelakaan. Sementara, jarang ada yang mau mengaji apa sih akar dari pemasalahan kenapa bisa terjadi longsor dan kerusakan jalan sampai begitu krusialnya?

Demikian dikatakan oleh sebut saja tuwo dahit namanya salah seorang pemerhati pembangunan Kota Sungai Penuh yang dikabarkan sedang kusuk menjalan sunnah nabi dengan nawaitunya waufu biahdi kanamas ula semata bertunak tapak ditanah kipudung Sulak, Kerinci.

Dikatakannya, pertama bila bicara longsor maupun banjir bandang terjadi didaerah ketinggian seperti di Kota Sungai Penuh maupun Kerinci tak lepas dari persoalan dari kegiatan penebangan hutan, seperti membuka kawasan peladangan baru termasuk ilegal loging. Ia juga menilai semakin meningkatnya jumlah penduduk dari tahun ketahunnya berdampak terhadap semakin sempitnya kawasan pemukiman termasuk lapangan usaha, hingga tak sedikit diantaranya berpindah dan mengambil sikap membuka kawasan baru seperti menebang hutan.

“Diperkirakan lebih dari 15 % kawasan TNKS didaerah puncak antara Kota Sungai Penuh dan Tapan, Pessel Sumbar telah gundul dan dikuasai oleh peladang. Bahkan, 15 M dari jalan umum yang berseberangan dengan Pos TNKS dipuncak telah dijarah dan dikuasai oleh peladang membuat pebukitannya tak sanggup lagi menampung debet air ketika hujan lebat. Hingga berpotensi teejadinya longsor dan banjir bandang seperti kerab dialami Kota Sungai Penuh dan Kerinci,” terang tuwo dahit.

Bahwa akan terjadinya longsor, banjir bandang dan jalan rusak parah dikawasan ketinggian Kota Sungai Penuh dan Kerinci sudah diprediksi jauh hari oleh para rekan dari aktivis kopi setengah air penuh dengan berbagai laporan telah disampaikannya kepada Kementerian dan pihak terkait.

Lanjutnya, masalah kedua adalah kerusakan jalannya tak lebih kaitannya dengan tonase kendaraan yang melintasinya melebihi daya tahan atau kekuatan jalan telah ditetapkan.

“Ya, akibat dari ditutupnya pos timbangan Dishub di KM 5 membuat pengemudi truk roda delapan jadi bersilantas angan memuat kendaraanya dengan tonase lebih. Hingga berdampak terhadap kerusakan tak mesti dialami oleh jalan,” terangnya lagi.

Dalam artian, katanya tak bermaksud menuding person atau lembaga manapun juga, tapi secara teori dan realitanya memang demikian kerab terjadinya longsor dan jalan rusak di puncak jalan arah ke Tapan.

“Untuk itu, diharapkan menjadi perhatian segera dari Pemerintah daerah, Pemrov, Kementerian terkait terutama TNKS, APH dan Dishub Provinsi Jambi selaku instrumen yang berkompeten terkait pos timbangan jalan,” harap tuwo dahit dengan zikir dalam istigfar sambil memilin batu tasbihnya yang disebut sebut terbuat dari biji unto jantan dan sengaja dipesannya dari tanah suci.@Yd,Yid,Yi dan Riles