Update Merah Putih, Bicara Rawang secara adat mungkin tak akan selesai cerita dan luas cakupannya, namun dirangkul saja dengan sebutan kebesarannya tanah Rawang yakni “Tigo Dimudik Empat Tanah Rawang dan Tigo Diilir Empat Tanah Rawang’.

Adakah kita mau tau bahwa Rawang secara pribadi dan perorangannya disebut Anek Awo juga memiliki keunikan tersendiri dengan ragam potensi SDM dimilikinya seperti jumlah ASN paling banyak, pejabat paling banyak, mata pilih paling banyak, dewan paling banyak, termasuk yang mengadu nasib dinegeri rantau juga terbanyak dalam wilayah Kota Sungai Penuh.

Khusus bicara potensi lebih dimiliki manusianya, itu semua bisa terbentuk karena telah ditempa oleh faktor alamnya yang hanya mengandalkan usaha tani sawah notabenenya sektor terkadang jarang jadi lantaran kerab dihanyut oleh banjir. Tentu, beda halnya dengan kehidupan daerah lain dengan dua sektor bisa digarap yakni sawah dan ladang.

Hingga, masingnya disebut Anek Awo sudah terlatih dengan bersitunggit untuk berusaha dan berjuang hidup demi bagaimana keluarga dan anak masingnya bisa sukses dan maju tak ubahnya seperti deras dan kerasnya perjuangan masyarakat keturunan Batak, Minang, Jawa dan China ketika berada diperantauan tampa dibekali cungguk tanah bersudut empat yang incut dimiliki yang bisa.diandalkan.

Bahkan, induk induk zaman now Rawang masih terbelenggu oleh rasa tanggung jawab ikut memikir keluarga, buktinya mulai terbuka subuh bisa dilihat puluhan bahkan ratusan orang induk penjual sayur keliling dari Rawang yang sudah berada dipasar Tanjung Bajure dan los ikan, termasuk sebagai pekerja mengambil upah ditengah sawah.

Tampa disadari bahwa alot dan gigihnya perjuangan dari kemandirian Anek Awo telah berdampak besar terhadap kehidupan sosial bermasyarakatnya seperti lemahnya rasa “kepedulian dan solider” nya terhadap sesama Awo, apalagi mau sengaja peduli terhadap masyarakat lainnya, karena secara umum dan tiap waktu satu sama lainnya Anek Awo hanya disibukkan bagaimana memikir dan mengurus diri serta keluarga masingnya.

Pantas disebut Rawang yang dulunya dikenal kompak dengan fanatis tingginya sebagai Anek Awo ternyata secara internal dimasa tarakinainya sangatlah kropos karena ulah tuntutan dan kebutuhan dari kemajuan zaman. Realitanya, bisa disimak dari setiap ajang politik legislatif dan Pilkades, misalnya, tampa peduli ataupun dengan terpaksa karena kebutuhan hingga berapapun angko yang disodor oleh siapapun peserta semuanya disikat habis.

Begitu pula, Rawang yang dulunya dianggap juntrungan bagi sealam Kincai ternyata secara eksternalnya dimasa tarakinai tak ubahnya seperti bengkahun kehilangan bisa, bahkan terkadang hanya dianggap sebagai pelengkap sempurnanya sandiwara dengan kebesaran terpojoknya “datang tidak membuat orang lain merasa bertambah dan bilapun tidak datang tak ada yang merasa kehilangan.

Tak sedikitpun bermaksud terlalu keras ingin menyebut dengan tanya ini salah siapa dan ini dosa siapa, karena bertanya pada rumput bergoyangpun didapat jawab yang sama yakni mestinya Rawang bersama seluruh Anek Awonya segera introspeksi diri secara internal maupun eksternalnya.

Pasalnya, bagaimanapun masingnya bersikeras hati dengan bagana bagini ingin berkilah dan membela diri karena alasan tak terima dituding begitu selaku anek Awo, tapi paktanya selama ini dari waktu kewaktu dan masa kemasa namanya Rawang dinilai kuat dan diperhitungkan hanya karena kualitas dari kemandirian pribadi atau personnya.

Hendaknya, pengalaman selama ini jadi pelajaran yang bisa diambil hikmahnya oleh Rawang bersama seluruh anek awonya, bahwa manusia disebut makhluk sosial tak lepas dari ketergantungan dan rasa butuhnya terhadap lainnya atau orang lain yang dikenal dengan prisipnya simbiosis mutualisme. Amin semoga, penulisnya katakan sajalah orang jauh tapi dekat dihati namanya.@Yd,Yid,Yi dan Riles.