Update Merah Putih, Dengan adanya pernyataan Presiden RI menyebut bahwa Pemerintah menjamin stock Bahan Bakar Minyak BBM terutama jenis Pertalite dan bio solar bersubsidii untuk masa satu tahun selama 2026 mencukupi bagi kebutuhan masyarakat golongan kecil dan menengahi.
Ternyata, pernyataan tersebut sukses dibaca kembali sebagai peluang usaha menjanjikan oleh mafia minyak tingkat daerah yang selama ini memilih tiarap karena adanya upaya serius dari Prabowo membenahi dan menindak pembuat kerugian negara dilingkup BUMN Pertamina.
Buktinya, dalam beberapa minggu ini dibeberapa SPBU Kota Sungai Penuh dan Kerinci susah ditemukan Bio Solar dan Pertalite dengan alasan klasik diberi oleh petugas SPBU bahwa minyak habis. Hingga masyarakat terpaksa mengisi read-beli BBM non subsidi dengan harga mahal seperti Turbo Solar, Dexlite dan Pertamax.
Sementara, hampir setiap emperan warung pojok disepanjang ruas jalan sampai ujung larik dan dusun tiap negri sealam Kincai ditemukan berjejeran penjual pertalite termasuk biosolar mestinya disalur oleh pihak SPBU kepada masyarakat. Wah ada batu akik jenis apa pula dibalik telak udangnya?
Terkesan, keberadaan pihak SPBU selaku perpanjang tangan Pemerintah mesti bertanggung jawab untuk memenuhi BBM bersubsidi bagi masyarakat kecil dan menengah ternyata nekad merubah fungsi jadi juragan bagi para pebisnis dan mafia minyak.
Menurut beberapa sumber yang layak dipercayai didapat keterangan bahwa langkanya BBM bersubsidi tak sekedar ulah penjual minyak emperan sampai berkali mengisi minyak di SPBU tiap harinya untuk dijual kepada masyarakat dengan harga lebih mahal.
Namun, diduga keras karena adanya permainan malam dari partai besar yang mengisi puluhan derigen BBM bersubsidi di SPBU untuk dijual kembali pada penjual minyak warung pojok termasuk usaha usaha besar yang beroperasi dinegri sealam Kincai maupun luar daerah.
“Apapun bentuk permainan BBM bersubsidi ditingkat daerah tak lepas dari kata seluku sepakatnya para pengelola SPBU. Setidaknya, terhadap pengisi minyak secara berulang tiap harinya dikenakan biaya tambahan untuk satu kali isi oleh petugas SPBU,” papar sumber.
Lanjutnya, dampak dari kelangkaan BBM bersubsidi dengan antrian panjang sesaat ditiap SPBU yang ditontonkan kepada masyarakat terkadang ampuh dijadikan alasan oleh pihak SPBU untuk mengajukan penambahan kuota pasokan minyak tiap harinya kepada pihak Pertamina. Nauzubillah.
Ia juga meragukan keseriusan pihak Pertamina yang katanya tiap waktu memonitoring kegiatan SPBU dengan cara memasang CCTV khususnya ditiap SPBU, sementara peredaran minyak bersubsidi secara ilegal masih marak terjadi seperti di Kota Sungai Penuh dan Kerinci.
“Maaf cakap, diduga keras keberanian pihak SPBU terkait penyalah gunaan BBM bersubsidi tak lepas dari permainan kijok matonya dengan pihak Pertamina. Buktinya, sampai saat ini belum ada tindakan konkret diberi teehadap pengelola SPBU nakal,” singkat sumber. Bersambung.@Yd,Yid,Yi dan Riles.







