Update Merah Putih, Bakato pituah alias gurindam dua belas orang dahin masa kini dari negeri Melayu daun Kopi yang tersohor dengan sebutannya air daun serbuk kawo, semerdu merdunya kicau muray yang bersangkar perak tetap muray nan bersiul dibalik batu jugo yang mendiring dan bisa memanggil kanti berduyun untuk berkumpul.

Artinya, bagaimanapun bentuk kemajuan zaman dengan segala keampuhan yang disebut bisa mengaturnya, namun disuatu masanya tetap alam dan kembali secara alami yang menjadi kerinduan semua didalam membangun kebersamaan.

Dimasa Kerinci dan Pemerintahan serta pembangunannya ditiranikan secara sepihak oleh kelompok Basah alias barisan sakit hati yang berpotensi mengganggu stabilitas kehidupan sosial bermasyarakatnya.

Maka, dengan jeli dan diketika itu juga Monadi Murison yang sudah berbulat tekad dengan nawaitu waufu biahdi menyatukan dan membangun Kerinci secara menyeluruh penuh keadilan langsung mengibarkan bendera persatuan dengan semangat Balik Ku Dahin diusungkannya menjadi tema Festival Budaya Kerinci yang akan digelar pada awal Desember 2025.

“Balik ku dahin”, tak hanya sebuah konsep yang mengajak para peserta untuk bisa kembali mengenang kekayaan budaya masa lalu, seperti mengenakan pakaian tradisional yang menjadi kebesaran moyang dari segala penjuru Alam Kincai.

Tapi, rangkaian demi rangkaian acara Festival diatur sedemikian rupa oleh panitia merefleksikan Kerinci dimasa silam yang identik dengan semangat kebersamaan dan kegotong royongan yang bersenandung lirik Sahile dengan Samude dibusamo, terlebihnya ajakan busamo membangun Kincai.

Dikabarkan, seluruh elemen festival mulai dari pakaian, makanan, minuman, dekorasi hingga berbagai aksesori akan ditampilkan dalam gaya klasik yang merefleksikan kehidupan masyarakat Kerinci di masa silam. Bahkan disesi pembukaan, akan digelar pawai budaya akbar yang direncanakan diikuti sekitar 4.000 peserta dengan mengenakan baju Dahin.

Tema “Balik ku dahin” bukan berarti mengajak masyarakat untuk kembali hidup di masa lampau. Sebaliknya, tema ini diapungkan sebagai pengingat akan nilai-nilai luhur orang Kerinci, seperti kuatnya semangat gotong royong, rasa kebersamaan, dan solidaritas antar warga yang mesti dihidupkan kembali sebagai pondasi untuk membangun Kerinci secara bersama-sama.

Inspirasi dari Masa Lalu.
Berdasarkan info dari Panitia pelaksana terlihat sudah sejak dini mengenakan baju dahin dengan selempangnya kain sarung cap gajah, bahwa masa lalu masyarakat Kerinci adalah sumber inspirasi yang tak ternilai. Dahulu, masyarakat hidup dengan prinsip tolong-menolong, bekerja bersama di ladang, membangun rumah secara bergotong royong, hingga merayakan tradisi secara kolektif tanpa memandang status maupun perbedaan.

Melalui Festival Budaya Kerinci 2025, nilai-nilai itu kembali diangkat agar generasi sekarang dapat memahami bahwa kemajuan hanya bisa dicapai ketika semua elemen masyarakat bersatu.

Festival ini diharapkan bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi momen refleksi bahwa identitas budaya yang kuat adalah modal penting untuk melangkah ke masa depan Kerinci yang jauh lebih maju lagi.@Yd,Yid,Yi dan Riles