Update Merah Putih, Silaturrahmi Kepala Balai Besar TNKS, Haidir Shut beserta rombongan secara beruntunnya menemui Bupati Kerinci dan Wako Sungai Penuh telah menjadi sorotan tajam masyarakat, karena Kota Sungai Penuh dan Kerinci menunggu nunggu debut dan kontribusi apa bisa diberikan TNKS buat daerah.
Diketahui, Kerinci yang semulanya terdiri dari Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci telah baiyo iyonya read-banget menghibahkan lebih dari separoh wilayahnya 51,09% kepada TNKS sebagai paru paru dunia dan juga ikut bertanda tangan dalam kesepakatan 4 Gubernur Jambi, Sumbar, Palembang dan Bengkulu bahwa 1 ekor nyamuk tak boleh dibunuh dan satu buah ranting tak boleh dipatahkan dalam kawasan TNKS.
Pasalnya, sampai saat ini kemurahan hati sealam Kincai belum mendapat perhatian dan peduli berarti dari pihak TNKS. Terkesan, pameo ada ubi ada talas tak popular lagi untuk sama dijunjung bagi pihak TNKS.
Sementara, akibat dari keterbatasan SDA yang bisa digarap dan semakin sempitnya kawasan pemukiman serta bagi perluasan dimiliki daerah telah berdampak besar pula terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci.
Dikabarkan, selain kordinasi pembentukan UPT baru TNKS, dan dua kunjungan tersebut juga masih tetap dalam bentuk agenda umum terkait rencana peningkatan jalan melintasi kawasan TNS diantaranya jalan Renah Pemetik Kerinci dan jalan arah Tapan, Kota Sungai Penuh.
Tanpa ada angin segar dan kabar gembira berarti yang dibawa oleh pihak Balai TNKS bagi kemajuan pembangunan daerah dan programnya bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat sealam Kincai, sebagaimana kepedulian dan perioritas diberi oleh Pemerintah terhadap daerah konservasi, misalnya.
Hingga, wajar bila kerap terdengar murkanya para aktivis peduli sealam Kincai mempertanyakan sejauhmana manfaat dan kontribusi nyata diberikan oleh TNKS bagi kemajuan daerah Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci.
Bahkan ada yang sampai hatinya menyebut “Kinci takicuh dinan tarang kapal barangkek penumpang tetingga”, karena prisip take and givenya berlangsung sepihak setelah nyah ineh adanya kawasan lahan diberikan tapi ulau itoh belum ada yang bisa dibuat oleh TNKS bagi daerah.
Malah, baitnya lagu sakitku disini telah dirasakan oleh sealam Kincai manakala setumpuk proposal diajukan oleh Kota Sungai Penuh dan Kerinci bersama Pemrov Jambi bagi penggunaan secungguk kawasan TNKS untuk tempat pembuangan sampah global tak pernah dikabulkan oleh Kementerian Kehutanan menaungi TNKS.
Dibagian lain, tak sedikit diantara warga sekitar kawasan nekad membabat hutan TNKS dengan membuka usaha peladangan dan ilegal loging mencari sesuap nasi dab mengais rezeki demi memenuhi kehidupan keluarga dan anaknya.
Mestinya, tragedi dan hiruk pikuk terkait TNKS yang berlangsung memuncak dari masa kemasanya bisa menjadi bahan utama untuk dibahas dan diperjuangkan oleh pihak Balai Besar TNKS terhadap Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup RI, terutama solusi dan kontibusi apa yang bisa dibuat bagi masyarakat dan daerah Kota Sungai serta Kabupaten Kerinci. Amin semoga. Penulihnya, katakan sajalah orang jauh tapi dekat dihati namanya.@Yd,Yid,Yi dan Riles.







