Update Merah Putih, Mencuap rumor adanya uang sirih read-pelicin untuk setiap urusan administrasi pencairan dikelola oleh Bekauda sudah menjadi momok dimana mana daerah terutama seperti dinegeri tanah bersudut empat yang incut alamnya Kincai yakni Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.

Tudingan miris ini cukup menciderai nama baik daerah dari masa kemasanya Pemerintah yang berkuasa seolah olah WTP tiap tahun diraih oleh Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh hanyalah topen semata tampa didukung oleh sistim pengelolaan transfaran yang kredibel dan acountabel.

Guna mengetahui kebenaran sesungguhnya awak Media Update Merah Putih mencoba menyiasat menjeraminya read-telusur dengan cara mendapatkan keterangan dari beberapa pihak dikenal rutin berurusan dengan Bekauda notabenenya lembaga yang disebut sebut sebagai beconya daerah.

Berdasarkan keterangan didapat dari para kontraktor, ternyata hampir ratanya mengakui bahwa terkadang mereka menyuruk amplop dibawah lapik read-meja
bila urusan administrasi pencairannya tuntas digelar oleh Bekauda.

Dijelaskannya juga bahwa uang sirih tersebut adalah bentuk kebiasaan para kontraktor royal maupun nakal mengucap terima kasih karena merasa urusannya terbantu. Hingga dianggap sebagai ketetapan mesti dipenuhi dari masa kemasa oleh rekanan lainnya.

“Artinya, amplop yang diberikan tersebut bukanlah bentuk pungli yang ditetapkan oleh pihak Bekauda. Tapi, sesungguhnya bentuk rasa bersyukurnya para rekanan nakal karena pencairannya bisa juga sukses digelar, meski secara tekhnis terkadang nilai pengerjaannya menurut fisik masih bermasalah untuk bisa dicairkan,” terangnya.

Hal senada diakui juga oleh beberapa orang Kepala Desa aduhainya di Kerinci dan Kota Sungai Penuh, ditambahkannya bahwa mereka tak pernah dipungut biaya untuk pengurusan pencairan oleh pihak Bekauda. Bila ada diantara Kepala desa yang berbaik hati, itu adalah urusan pribadi dan manusiawi masingnya.

Dibagian lainnya lagi, menurut salah seorang sang peduli negeri sealam Kincai, terlepas ada dan tidaknya penerimaan amplop nyah ineh ulau itoh alias take and give antara pihak ketiga dengan Bekauda, tapi lazimnya rumor pungli di Bekauda mencuap karena adanya faktor dari luar.

“Maksudnya, karena adanya sentiment, sakit hati dan persaingan kerja maupun usaha, dan juga karena unsur sifatnya ingin merusak serta menjatuhkan nama baik maupun karirnya seseorang, termasuk untuk merusak citra kepala daerah, seperti kebesarannya Kerinci dan Kota Sungai Penuh tiap tahunnya meraih WTP,” singkatnya.

Dengan kata lain, pihak Bekauda tidak pernah meminta apalagi menetapkan biaya untuk pengurusan administrasi pencairan bagi rekanan. Bukan pula bermaksud membantah prisip beradatnya orang beradab tak boleh menolak bila rezeki sudah berada didepan mata, misalnya. itupun bila yang berurusan sedang berbaik hati dengan anggapan didalam rezekinya ada rezeki orang lain, kali.

Sementara itu, dari seorang sumber yang berkompeten didapatkan keterangan singkat bahwa bila ada rumor terkait pungli di Bekauda hendaknya perlu didukung oleh bukti dan alat bukti agar bisa diproses dan dilanjut secara hukum. Bersambung.@Yd,Yid,Yi dan Riles.