Update Merah Putih, Bakato pituah alias gurindam dua belas orang dahin masa kini dari negeri tanah sikudung, Slulak bagaimanapun kering dan kerasnya akar sampai batangnya sirumpun timun balando, tapi kemana dan dimana merayap batangnya disitulah ia berbuah demi kebutuhan orang banyak.

Rupanya, semangat produktif diri bagi kepentingan umum yang sudah menjadi pondasi kehidupan bermasyarakat secara turun temurunnya dunsanak kito dari siulak telah dimaknai secara sempit oleh Wisal Putra selaku tunggu negeri yang sudah bertunak tapak dan beranak pinak di desa Air Terjun, Kecamatan Sulak dan juga dipercayai sebagai Kepala Desa Air Terjun.

Selaku Kepala Desa Wisal Putra tak sekedar dipandang angkuh dan sombong ditengah masyarakatnya. Tapi, dirinya juga diduga telah menyalahguna jabatan selaku orang nomor wahid ditengah larik dan dusun untuk memperkaya diri tanpa peduli terhadap perkembangan dan kemajuan desa yang sudah menjadi kewajiban dan tugas pokoknya selaku Kepala Desa.

Bahkan, dikabarkan bahwa LHKP tak resmi berbentuk tanah bersudut empat yang incut dan lain read-aset dimilikinya yang dihebohkan masyarakat jauh melonjak dari kepemilikan harta sebelum Wisal Putra menjabat Kepala Desa mesti jadi perhatian segera dari pihak Inspektorat selaku auditor termasuk APH, sebagaimana dilansir oleh salah satu Media Online papan atas favoritnya pembaca sealam Kincai.

Berdasarkan Investigasinya, ditemukan adanya beberapa sumber dana yang sengaja di sembunyikan oleh Oknum Kades Wisal Putra diantaranya penyertaan modal BUMDES , dana dari hasil pengelolaan PAM Desa yang disimpan rapi tanpa diketahui sama sekali oleh masyarakat berapa Jumlah Dana BUMDES, Siapa Pengurus BUMDES,

Termasuk penggunaan Dana Bantuan BPSKL dari Kemendes tahun 2024 sebesar 170.000.000, juta Rupiah tak henti dipertanya oleh masyarakat karena sampai saat ini tidak diketahui kemana rimbanya. “Lah dibao liau betanam kubik dalam rimbo, kali, ndan”, sergah guyonnya hantu bisik ntah dari mana pula datangnya.

Hebatnya lagi, secara diam diam Wisal Putra telah menjual sapi milik BUMDES sebanyak tiga ekor tanpa diberi tau pada masyarakat kemana saja dan digunakan untuk apa uang hasil penjualan sapi BUMDES seharusnya berkembang dan bergulir menjadi usaha masyarakat dan desa.

Sontak membuat salah seorang tokoh masyarakat terkemuka dan terpandang dalam negri sampai angkat bicara bahwa pihaknya telah lama mencurigai dan menduga adanya penyimpangan dana desa. Hanya saja, tak mau terlalu heboh demi memikir stabilitas dan keharmonisan semua tunggu negri.

Ia juga menyampaikan bahwa ditinjau dari beberapa aset pribadi yang di miliki kades Wisal Putra tidak sebanding dengan gajinya selaku Kepala desa. “Lantas uang untuk membeli aset pribadi tersebut datangnya dari mana, kalau bukan dari hasil korupsi dana desa,” imbuhya sambil menggeleng kepala dengan raut penuh kecewa.

Tak heran, warga Desa Air Terjun berharap kepada pihak Inspektorat agar segera meaudit kinerja Wisal Putra selaku Kepala Desa, termasuk harapan khususnya kepada APH agar segera melakukan penyelidikan guna memastikan ada tidaknya unsur tindak pidana korupsi telah dilakukan oleh bersangkutan.

Dibagian lainnya, beberapa komunitas masyarakat sulak tibuang jauh yang masih peduli dan cinta tanah sikudung menilai bahwa berdasar rumor berkembang pantas disebut tabiatnya Wisal Putra selaku Kepala Desa tak ubah seperti tumbuhnya ubi jalar yang merayap kemana mana sampai menyuruk dipihing kanti, sementara ungguk buahnya hanya ada pada sirumpun badannya saja notabenenya sifat pemimpin negri yang sangat dibenci oleh anak jantan dan betina serta kemarkannya kalbu Depati Intan ketika dahin masa dulu kalanya. Subhanallooh.@Yd,Yid,Yi dan Riles.