Update Merah Putih, Dalam rangka menyambut Kenduri Seko Karang Setio Tap, Koto Baru yang sudah tercatat berabad lamanya tak pernah digelar, Sabtu 18/4 masyarakat Desa Koto Beringin dari kalbu Depati Singolago, Rio Balang dan Mangku gelar “Melemang Bersama”. Bahkan, sehari sebelumnya ada warga Koto Beringin telah Melemang demi meriah dan suksesnya kenduri seko tersebut.

Kegiatan melemang bersama yang dipusatkan dikediaman pribadi Joni Zeber gelar Depati Singalago termasuk dibeberapa rumah warga lainnya desa Koto Beringin terlihat hadir para pemangku adat, anak jantan dan anak betina termasuk tokoh muda tibuang jauh Feri Hartarto juga berkesempatan hadir ditengah negri.

Moment bersama Koto Beringin untuk Kenduri Seko Karang Setio Tap Koto Baru ini, tak sekedar bentuk ikut gembira bersama, tapi lebih penting dari itu adalah wujud nyata kebesaran dari kepala sukunya Depati Singolago yang ada didalam Setio Tap dan ada didalam Setio Bali.

Ada dari keberadaannya tersebut dipertaut dan dijabarkan oleh kuasa luasnya Rio Balang selaku Ketua Permanti nan Lima dikenal dengan sebutan adik bungsu kesayangannya Depati Singalago, sosok yang disebut sebut sebagai orang bukebun luas dan berpadan gedang notabenenya orang yang banyak padik dan dusanak read-family yang berkiprah di setio Tap dan juga berkiprah disetio Bali.

Tak ubahnya seperti makna kekeraban dari lirik lagu tradisonal Rawang menyebut “idoik niau baleuk kumeh datoi namun namiunyu mamauk tetaplah mamauk”, begitulah, saking eratnya hubungan secara adat dan kekeluargaan antara Koto Beringin dengan Koto Baru yang tak bisa dipisahkan antara satu sama lainnya.

Dikatakan oleh Joni Zeber gelar Depati Singolago, bahwa acara Kenduri Seko Karang SetionTap merupakan acara sakral dan juga symbol pemersatu serta keharmonisan antara sesama dan antar sesama secara adat yang berlandaskan Adat Bersendi Sara’ dan Sara’ Bersendi Kitabulloh.

Ia juga menyampaikan, cakupan Kenduri Seko Karang Setio Tap sangatlah luas dengan mengundang Tigo Dimudik Empat Tanah Rawang dan Tigo Dillir Empat Tanah Rawang termasuk Depati Empat beserta Lingkup Pemerintah Daerah.

“Dengan adanya Kenduri Seko, diharapkan keberadaan kaum adat ditengah masyarakat tak sekedar bangga disebut orang melepas pagi dengan memasukkan petang yang bisa menimbang sama berat dan mengukur sama panjang saja. Tapi dengan adanya tuah kebesaran kaum adat ketika memenggal putus dan memakan habis, diharapkan senantiasa ada pada ruas dengan bukunya tiap persoalan. Hingga, adat yang disebut juntrungan pantas jadi panutan keadilan yang ada manfaat dan berkontribusi besarnya bagi kemajuan masyarakat maupun Pemerintah termasuk Pembangunan,” singkat Joni Zeber Gelar Depati Singolago.

Sementara itu, Feri Hartarto tokoh muda Koto Beringin yang tibuang jauh kerab dipanggil dengan sebutan Pak Dosen, mengatakan keikut sertaan anak jantan dan anak betina beserta anak tuwo jantan ditengah negri Koto Beringin demi suksesnya Kenduri Seko Karang Setio Tap adalah bukti nyata bahwa Koto Beringin selalu ada untuk Koto Baru. Ia juga berharap palah bebalah lama, hendaknya jadi pelajaran yang bisa diambil hikmahnya guna lebih mempertaut hubungan antara Koto Beringin dengan Koto Baru dimasa tarakinai read-kini.

“Disebut hutang budi bisa dibalas, tapi hubungan nyawa dengan badan antara KBKB alias Koto Baru dengan Koto Beringin adalah sesuatu tak bisa ditawar dengan harga apapun juga. Semisal, muncul tanya bagaimana sikap Koto Baru bila seketika rombongan kepala kodi kanji dahin letingannya abang Khaidir, Guru Saik dan Sunardi alm, Caik, Ulul, Aprianto, Buyung dan bujang pujalan rantau jauh yang panjang ekor mata lainnya karena sukses memanfaat kesempatan asal telauk badan, ternyata mendadak pulang dengan membawa anak bersama selir barunya, terutama kegembiraan menghadapi kenduri seko ini? Jawabannya, tentu akan diterima dan diakui sebagai bagian dari Koto Baru Apalagi bila telah diakui dan dinobat secara adatnya, hendaknya amarah Simenanti lama tak perlu diperbesar besarkan karena begitulah adanya pakai setiap jenis cap lonceng dari surihnya negri Koto Baru,” terang pak Dosen.

Lanjut Pak Dosen, on be helf Koto Beringin People atau atas nama masyarakat Koto Beringin dari Suku Depati Singolago, Rio Balang dan Mangku beserta kaum adatnya mengucapkan selamat dan suksesnya Kenduri Seko Karang Setio Tap, Koto Baru. “”Kenduri Sko bukan sekadar ritual, melainkan janji hati untuk menjaga akar agar batang tak rebah, menjaga warisan agar anak cucu tak kehilangan jati diri,” terang Feri Hartarto.@Yd,Yid,Yi dan Riles.